Layang-layang

Oleh: Adipatililif

“Papa, Papa!”

Hanan anakku yang baru berusia tujuh tahun bergelantungan di tanganku yang sedang sibuk mengetik pekerjaan yang sudah deadline. Aku menghela napas menahan sabar dari tingkah Hanan yang mengganggu pekerjaanku.

“Hati-hati nak, nanti kamu jatuh!”

Aku mencoba mengarahkan Hanan agar tidak bergelantungan. Kupangku Hanan, berharap agar ia diam dan tidak menggangguku yang sedang mengebut mengejar deadline pekerjaan.

“Papa, ayo main!”

“Emangnya kamu mau main apa?”

“Aku mau main layang-layang, sama Papa!”

Hanan menatapku penuh dengan harap. Matanya berbinar seolah merayuku agar mau main bersamanya. Terlintas dalam benakku betapa kecewanya ia jika aku menolak bermain dengannya.

“Nanti ya nak, Papa lagi kerja, kalau sudah selesai nanti kita main layang-layang bareng ya di lapangan.” Kataku berhati-hati.

“Malas ah sama papa!”

Hanan turun dari pangkuanku. Meninggalkanku begitu saja tanpa sedikitpun menoleh. Aku yakin dia sangat kesal. Yasudahlah, nanti suatu saat dia pasti mengerti. Kataku dalam hati.

Tak terasa sudah sembilan jam aku menatap layar laptop. Dari jam delapan pagi sampai jam 4 sore. Sesekali aku beristirahat sekedar untuk makan siang dan menunaikan kewajiban shalat dzuhur dan ashar. Kumatikan laptop yang menemaniku seharian penuh.

Aku teringat Hanan. Anakku yang tadi pagi merengek untuk main layang-layang bersama. Hanan masih marah tidak ya? Layang-layang memang menjadi mainan kesukaannya sejak berusia 4 tahun. Layang-layang plastik berwarna emas yang kami buat bersama pun masih tersimpan di gudang. Diterbangkan ketika kami ingin dan tidak perlu menunggu musim layang-layang.

Pikiranku bernostalgia mengingat kala pertama kali Hanan bermain layang-layang. Kupegangkan layang-layang untuk diterbangkan, lalu Hanan menarik benangnya dan dengan cepat layang-layang terbang meliuk-liuk di udara.

“Pintarnya anak sholeh.” Ujarku.

“Bukan anak sholeh, aku anak Papa.”

“Maksud Papa, kamu anak Papa yang sholeh.”

“Bukan, aku anak Papa yang Papa.”

Sudah dua bulan lamanya aku dan Hanan tidak punya waktu untuk main bersama. Karena memang pekerjaan terlalu menuntutku untuk selalu fokus kepada laptop.

Sempat sesekali istriku menegurku karena tidak banyak meluangkan waktu untuk keluarga. “Pa, kenapa sih setiap hari sibuk mulu! Kasihan loh Pa, Hanan ngajak main kamu, kamunya malah gak ada waktu terus.” paling aku jawab “Mau gimana lagi? namanya juga kerja.”

Istriku muncul dari balik pintu kamar. Menghampiriku dengan cemas.

“Pa, sudah mau magrib kenapa Hanan belum pulang yah?” Tanya istriku.

Aku lihat jam weker yang tersandar di meja rias sudah menunjuk pukul setengah enam sore.

“Mungkin sedang keasyikan main layang-layang. Kayaknya bakat bolang kamu nurun deh ke anak kita.” Ledekku kepada istriku.

“Apa sih Pa!” istriku mencubit dengan gemas.

“Hehe… iya maaf, biar aku panggil aja ya.” Sambil melepas tangan istriku yang mencubit gemas bahuku.

Aku bergegas keluar rumah mencari Hanan di sekitar lingkungan kompleks. Sepanjang jalan mataku melirik ke segala arah yang terhalang oleh rangkaian aktivitas masyarakat yang memang terbilang ramai. Sesekali aku bertanya kepada anak-anak kecil yang sedang bergegas pulang dari bermain layang-layang atau sekedar bertanya kepada ibu-ibu yang sedang mengangkat jemuran. Tetapi tidak ada yang tahu di mana Hanan.

Sudah hampir seluruh bagian kompleks aku telusuri. Namun aku belum juga menemukan Hanan. Aku pulang, berpikir mungkin Hanan sudah pulang dan aku tidak berpapasan. Namun di depan teras hanya ada istriku yang sedang duduk-duduk memandangi mini garden di depan rumah.

“Hanan, sudah pulang Ma?”

“Loh, aku kira kamu pulang bareng Hanan!” Terpancar wajah yang cemas di seri-seri wajah istriku.

“Aku sudah keliling kompleks tapi gak ada. Sudah kutanya ke teman-temannya juga gak ada yang lihat juga.”

“Duh, gimana ya Pa? Aku jadi khawatir terjadi sesuatu sama anak kita.”

“Kamu jangan khawatir, mungkin setelah magrib Hanan pulang.” Ujarku menenangkan istriku yang sedang gundah.

Kami menunggu di depan teras rumah. Dalam lamunan menebak-nebak kapan Hanan akan pulang. Istriku terdiam, tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan. Aku tak berani bertanya. Takut kata-kata yang keluar membuat menambah rusak suasana hatinya yang sedang kacau.

“Pa, Kenapa Hanan belum pulang juga ya? Aku takut terjadi sesuatu sama Hanan” tanya istriku memecahkan waktu yang beberapa saat hening.

Matanya mulai membasah. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari kedua kelopak matanya.

“Aku takut terjadi sesuatu Pa!”

Ku usap air mata istriku yang mengalir di kedua pipinya. Ku tatap matanya dalam-dalam.

“Mama tenang ya, kita coba melapor ke kantor polisi ya ma”

Istriku mengangguk. Karena tidak ada pilihan selain meminta bantuan kepolisian.

Sebenarnya sudah beberapa kali aku keliling kompleks. Mengetuk dari satu pintu ke pintu yang lain mencoba menanyakan apakah Hanan main di sana. Aku juga sudah menghubungi beberapa kerabat berharap disana ada hanan yang kebetulan mampir kesana untuk sekedar main mobil-mobilan atau rumah-rumahan bersama. Tetapi jawaban yang kuharapkan tak kunjung aku dapatkan.

Malam ini terasa sangat asing bagi kami. Biasanya aku membacakan dongeng si Kancil yang selalu diulang-ulang. Dan Hanan selalu bertanya pertanyaan yang sama dan aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sedangkan istriku menyaiapkan susu boneto putih kesukaannya.

Tetapi malam ini tidak ada dongeng yang kubacakan. Tidak ada pertanyaan yang sama yang ditanyakan kepadaku walau pertanyaannya itu-itu saja. Tidak ada susu kesukaan Hanan yang dibuat. Istriku sibuk menanti kabar dari kepolisian barang kali Hanan ditemukan. Sementara aku sedang mencari Hanan dalam lamunan.

Hatiku gundah. Banyak pertanyaan memenuhi isi kepalaku. Hanan, kamu lagi dimana sih? Kamu lagi ngapain sekarang? Kenapa enggak pulang-pulang sampai larut malam.

Suara sirine bersahutan memecah hening malam. Kubuka gorden kamarku untuk mengintip dunia luar di balik kamar. Satu mobil polisi dan dua motor polisi berjenis Yamaha P900 berhenti di depan halaman rumahku.

Tok, tok, tok.

Kami bergegas beranjak dari kamar tidur menuju ruang depan rumah. Kubuka pintu rumahku. Tampak empat orang polisi berdiri di depan pintu rumah dan dua orang polisi sedang berjaga di depan halaman rumah.

“Selamat malam pak, mohon maaf mengganggu istirahatnya.” Ujar polisi itu sambil menyalami aku dan istriku.

“Iya pak, silahkan masuk pak.” Aku mempersilahkan polisi-polisi itu untuk masuk ke dalam rumah.

“Maaf pak, ada yang bisa kami bantu?” aku mencoba menanyakan maksud kedatangan pak polisi ke rumahku.

“Kami sudah menemukan seorang anak yang ciri-cirinya sesuai dengan yang dilaporkan.”

“Alhamdulillah, Bagaimana keadaan anak kami pak?” Tanyaku

Pak Polisi terdiam sejenak. Lalu saling menatap satu sama lain.

“Sebelumnya kami meminta maaf. Anak yang kami temukan sudah dalam keadaan wafat. Kami menemukan anak tersbut tenggelam di kali. Berdasarkan laporan warga anak tersebut terjatuh ketika sedang bermain di jembatan. Saat ini pihak kami sedang melakukan penyelidikan mencari dugaan lain penyebab kematian anak tersebut.”

Nyawaku seperti tertarik ke atas langit. Nafas ku terasa sesak. Tulang-tulangku seperti melunak. Kabar itu bukanlah kabar yang sedang aku tunggu. Di dalam hati aku beristigfar. Anak yang tenggelam itu pasti bukan Hanan.

“Ini foto-foto anak tersebut. Agar lebih jelas, bapak bisa cek dahulu foto-foto ini.”

Pak polisi menyerahkan amplop berwarna coklat. Ku buka pengait amplop yang melilit rapat. Dadaku berdebar. Ku perhatikan foto-foto itu satu persatu.

Astagfirullahaladzim, Innalillahi wainna ilaihi rojiun.” Istriku memelukku dengan erat.

“Hanan Pa, itu Hanan!” Istriku menangis histeris.

Dadaku semakin sesak. Tubuhku terasa hilang kekuatan. Hatiku hancur berkeping-keping. Air mataku mengalir. Dengan sisa-sisa kekuatan kubuka lembaran foto satu persatu. Foto itu, Foto Hanan yang sedang menggenggam layang-layang plastik berwana emas.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun, Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu. Ya Allah, nak… maafin Papa! Astagfirullahaldzim, maafin Papa nak. Kalau aja Papa mau main layang-layang sama kamu, mungkin yang seperti ini tidak akan terjadi.”

Pak Polisi menepuk pundakku memberikan rasa empati kepadaku.

“Yang sabar ya pak. Yang ikhlas. Semua sudah menjadi ketetapan Allah. Kami turut berduka cita.”

“Baiknya bapak atau ibu ikut kami ke kantor untuk mengurus berkas-berkas pemulangan ananda Hanan.”

Aku meminta Pamit kepada Istriku untuk mengurus kepulangan Hanan. Kalau saja Aku tau ini menjadi hari terakhir kita main bersama, Aku akan tinggal pekerjaanku.

“Kamu yang tenang ya nak disana. Tunggu papa, nanti kita main layang-layang di Surganya Allah.”

***